Tuesday 17th July 2018

Undang Undang Perikanan Makan Korban, Satu Penyetrum Diajukan ke Meja Hijau

ilustrasi setrum ikan (foto:net)

BARABAI – Kasful Anwar alias Apul tertunduk lesu di kursi terdakwa. Pria berusia 33 tahun tinggal di Desa Rantau Bujur, Kecamatan Labuan Amas Utara tak berkutik ketika dicecar pertanyaan oleh Majelis Hakim PN Barabai yang dipimpin oleh Wiyono saat Jaksa penuntut umum Eko Budisusanto menghadirkan 2 saksi dari Pol Air Polda Kalsel, kemarin (9/5) siang.

Dua Anggota Pol Air Sugiono dan Fanlega HB mengakui bahwa saat ditangkap, Apul sedang menangkap ikan dengan cara yang sangat dilarang yaitu menggunakan alat setrum. Aktivitas illegal fishing selama ini di daerah perairan di HST sangat meresahkan, kadang menimbulkan konflik horizontal antar warga kampung yang tetap mempertahankan pola tangkap tradisional.

“Kami dihubungi Ketua RT Desa Samhurang. Laporan itu mengatakan bahwa ada aktivitas penangkapan ikan dengan setrum ditengah kegelapan malam di tengah danau Samhurang,” terang Sugiono.

Setiba di Samhurang, warga berkumpul dan komplain kepada aparat dengan aktivitas illegal fishing tersebut. ia pun menghimbau warga tidak terprovokasi. bila ada tersangka dan berhasil ditangkap, Sugiono dan Fanlega minta warga tidak melakukan aksi main hakim sendiri.

“Sekitar 500 meter dari tempat berkumpul tadi kami temukan dia sedang menangkap ikan dan langsung kami tangkap dan diamankan ke Polres HST bersama seluruh barang bukti seperti hasil tangkapan ikan, genset, dan tiang untuk alat menyetrum termasuk perahu,” tegasnya.

Eko Budisusanto menyatakan, terdakwa didakwa dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2001 tentang Perikanan. Kejadian itu tercatat pada 2 April 2017 silam sekitar pukul 00.30 Wita, danau tempat menyetrum itu masih berada di Desa Samhurang. Berdasarkan undang-undang perikanan, ada larangan menggunakan bahan kimia, biogas, bahan peledak yang merusak kelestarian sumberdaya ikan.

Apul mengaku seluruh keterangan saksi dan dakwaan Jaksa Penuntut Umum, menurutnya, saat kejadian ia berusaha lari namun ketangkap aparat. Ia juga tidak mengiyakan atau menolak pernyataan tentang penyetruman dilaksanakan bersama atau berkelompok oleh rekan-rekan yang lain. Apul mengaku saat kejadian apes.

Ajib bersama puluhan warga Samhurang yang menghadiri sidang sangat mendukung persidangan penyetruman ikan. Saat ini banyak warga yang tidak berani menegur aktivitas tersebut karena pelaku biasanya membuat kelompok sehingga warga biasanya kalah jumlah. Semenjak ada pos Pol Air di Desa Kayu Rabah, Kecamatan Pandawan para pelaku illegal fishing mulai tiarap.

”Bila ada yang berani menegur, biasanya perahu kami ditabrak dan diancam. Pelaku pencurian ikan di desa kami justru orang luar desa,” pungkasnya.(mam)

No Responses

Tinggalkan Balasan