Saturday 21st July 2018

Emansipasi Kebablasan

Muhammad Rizali

EMANSIPASI KEBABLASAN
Oleh: Muhammad Rizali

Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, kita (Manusia) di berikan amanah untuk menjadi pemimpin dimuka bumi. Sedemikian indahnya tatanan kehidupan yang di atur oleh-Nya yang pasti mengantarkan kepada kebahagiaan. Tapi malah sebaliknya kadang manusia lupa dengan kodratnya sebagai makhluk yang di ciptakan secara berpasang-pasangan, dengan mempunyai peran dan fungsi masing-masing pula.

Beberapa hari terakhir ini banyak masyarakat khususnya kaum hawa yang membuat status tentang emansipasi wanita di media sosial, mungkin karena hari Katini kali ya. Mulai dari anak-anak sampai yang sudah paruh baya. Jika saya boleh bertanya, seperti apa sih emansipasi itu? Apakah mereka mengerti tentang hal tersebut atau bahkan hanya ikut ikutan saja. Jadi? Apa jadinya jika mereka salah kaprah dalam menarik kesimpulan tentang emansipasi?

Secara umum atau banyak orang yang mengartikan Emansipasi itu sebagai pembebasan hak-hak wanita yang terisolasi oleh hukum dan membatasi mereka untuk berkembang serta maju. Disini kita menarik contoh dari seorang tokoh atau bisa disebut pahlawan wanita Nasional, yang memperjuangkan hak-hak wanita dari peranan patriarki di zaman pemerintahan Hindia Belanda yang pada pasalnya hak-hak perempuan pribumi terbatas. Terkekang oleh situasi serba sulit, mereka tidak mempunyai hak dalam menempuh pendidikan tinggi.

Siapakah dia? ya mungkin seluruh masyarakat Indonesia khususnya kaum wanita kenal dengan dia, meski hanya kenal dari sumber yang di dengar maupun dibacanya. Dia adalah Raden Ajeng Kartini, ya kartini sebutan akrabnya. Dengan cita-cita luhurnya untuk mengangkat harkat martabat wanita, saat itu sebagai bentuk perlawanannya terhadap kaum kaum patriarki yang membatasi hak-hak wanita untuk maju dan berkembang.

Kehidupan wanita saat itu tertutup dalam kegelapan yang tidak disinari cahaya ilmu dan menerobos celah pemikirannya. Dengan bentuk kegigihannya dalam menyuarakan hak-hak perempuan sehingga kegelapanpun secara perlahan sirna dimuka bumi ini.

Jauh sebelum kartini hadir dengan karya fenomenalnya itu, Islam sudah lama berbicara tentang Emansipasi, pembebasan hak-hak wanita pada masyarakat Arab kuno, sebutlah jaman itu Jahiliyah atau jaman kebodohan. Di masa itu kekacauan di tatanan masyarakat sangat merajalela, maksiat dimana-mana hingga tidak ada penghargaan sama sekali terhadap wanita dari segi tatanan sosial masyarakat, sampai ketika ada seorang wanita melahirkan seorang anak berjenis kelamin wanita maka sangat aib di mata mereka dan sebagian mereka rela untuk membunuhnya sampai dikubur hidup-hidup.

Jika juga mereka membiarkankan nya untuk hidup tapi diposisikan sangat rendah hina bahkan dijadikan harta waris. Begitu kejinya kah masyakat Arab masa itu? Ya betul sebagaimana firman Allah pada surah An Nahl ayat 58-59 yang artinya: dan apabila mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah.

Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya kedalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.
Ketika Islam hadir di tengah tengah-tengah mereka, kekacauan di tatanan masyarakat bangsa Arab kala itu secara berangsur angsur membaik, tidak ada lagi yang namanya aib ketika melahirkan anak bayi wanita. Harkat dan martabat wanita diangkat tidak ada lagi penidasan dan ketidakadilan terhadap wanita. Meskipun tidak ada yang namanya perjuangan itu semudah membalik telapak tangan.

Didalam Islam sangat banyak keistimewaan wanita bahkan ditimbang lebih unggul dibandingkan dengan laki-laki. Sangat jelas di ceritakan didalam Al-qur’an tentang kedudukan dan Emansipasinya dengan kaum pria. Esensi dan Identitasnya pun jelas, bahkan satu surah dalam Al-qur’an dengan nama perempuan yaitu surah An-Nisa. Memang Emansipasi banyak merubah pandangan wanita untuk berfikir lebih maju entah itu dalam pendidikan maupun karir diberbagai bidang, hari ini tidak ada lagi yang namanya batasan terhadap wanita untuk mengecap yang disebut pendidikan.

Tapi apa jadinya? jika sebagian dari mereka salah kaprah dalam mengambil makna dalam Emansipasi tersebut, dan Emansipasipun dijadikan sebagai tameng oleh wanita untuk memberontak dari kodratnya sebagai wanita. Mereka menuntut untuk bebas melakukan apa saja termasuk juga menjadikan diri seperti layaknya seorang pria dalam masalah waktu dan kebebasan untuk keluar rumah tanpa kontrol. Sebab itulah banyaknya terjadi kejahatan seksual, pelacuran hingga tidak ada perlindungan terhadap wanita. Meskipun Negara mempunyai Lembaga perlindungan terhadap perempuan, tapi semua itu hanya akan omong kosong belaka jika si perempuan sendiri salah dalam mengambil peran Emansipasi dalam dirinya.

Tidak hanya perempuan yang sering menjadikan konsep Emansipasi sebagai tamengnya, bahkan disalah gunakan oleh kaum pria. Kenapa? Banyak ditemui seorang pria menjadikan seorang Istri sebagai penanggung jawab kebutuhan Ekonomi keluarga dengan alasan susahnya mendapatkan lapangan pekerjaan. Sehingga dalam keluarga tersebut peran dan fungsi mereka tertukar, dimana seharusnya peranan wanita di ambil oleh pria dan sebaliknya. Apakah hal tersebut tidak salah kaprah? dan dimana selayaknya seorang pria adalah sebagai tempat wanita bersandar dari segala masalah hidup yang dijalaninya dalam keluarga.

Berlanjut dari frasa sebelumnya, didalam Al-Qur’an pada surah An-Nisa ayat 34 dijelaskan, yang artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah dan pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka, dan pukulah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Sebagai Closing, perlu kita ketahui bahwa komunitas terbesar di kalangan masyarakat secara umum adalah wanita. Jika mereka baik maka baiklah masyarakat itu, dan sebaliknya jika kepribadian mereka buruk maka buruklah masyarakat tersebut. Sungguh, apabila wanita muslimah benar-benar memahami syariat Allah, niscaya mereka akan melahirkan generasi tangguh dan berguna bagi umat seluruhnya, Wassalam.

No Responses

Tinggalkan Balasan