Sunday 22nd July 2018

Kualitas Karet Harus Tingkatkan, Jika Tidak…

KARET- Kualitas karet harus ditingkatkan untuk mensejahterakan petani karet- foto inet

SUARABANUA.COM, MARTAPURA – Untuk meningkatkan kesejahteraan Pengrajin karet, Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banjar, dongkrak kualitas karet di daerahnya, Rabu (19/04).

Sementara ini Indonesia memiliki lahan Karet terluas dunia setelah negeri bambu China. Pada 2015, perkebunan karet di Indonesia mencapai luas total 3,65 juta hektar. Dalam 1 hektar lahan karet memiliki 400 sampai 500 pohon karet menghasilkan 950 kg per tahun dikalikan 3.650.000 hekter, maka Indonesia dapat menghasilkan 3.467.500 ton per tahun.

Sementara ini harga karet dalam kilogramnya Rp7.500 sampai Rp8.200 per kilogramnya. Saat ini harga karet masih fluktuatif, karena ada konsorsium dan harga pasar, tergantung permintaan produsen.

Kalimantan Selatan, khususnya Kabupaten Banjar memiliki lahan kebun karet paling banyak di Desa Simpang Empat. Tata-rata karet rakyat yang dikelola oleh kelompok tani, di desa itu ada sekitar 3ribu hektar perkebunan karet. Selain itu, perkebunan karet juga terdapat di Mataraman, Karang Intan dan Sungai Tabuk.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banjar Husaini mengatakan, untuk mempertahankan posisi penghasil karet terbesar pihaknya akan konsisten untuk memperbaiki kualitas karet.

“Kita masih konsisten untuk mengembangkan program bokar bersih. Dengan harapan para pekebun bisa menjaga utu setelah mereka bergabung dengan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB),” ujarnya.

Untuk bisa menjaga mutu karet bisa dilakukan dengan cara menggunakan bahan pencampur yang direkomendasikan seperti asam semut (Cuka gatah), dan deodoran rubber (Deorab)

Menurut Husaini kualitas karet mesti dijaga, kecurangan para petani karet yang mencampurkan serat karet dengan tanah, pasir, kerikil atau kayu membuat kualitas serat karet menurun. Ini melanggar Peraturan Menteri Pertanian No 38/2008 dan Peraturan Menteri Perdagangan No 54/2016, tentang bahan pencampur yang direkomendasikan.

“Kita ada penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang bersentuhan langsung dengan petani perkebunan. PPL inilah yang bertugas untuk menyadarkan para pengrajin karet agar bisa menjaga kualitas karetnya,” ucap Husaini.

Harapnya, para petani karet bisa membuat kelompok petani karet yang terorganisir di UPPB.  Mereka akan diajarkan bagaimana menjaga kualitas karet dengan baik, serta merawat pohon karet dengan pupuk organik yang sudah disediakan. Agar harga karet bisa meningkat dan mampu untuk mensejahterakan para petani karet.

“Sementara ini dari sektor karet kita masih signifikan. Kami berharap adanya alokasi dari APBN untuk mendongkrak mengembangkan penghasilan maupun kualitas dari sektor karet Kabupaten Banjar,” tutupnya. (SB-08/rad)

No Responses

Tinggalkan Balasan