Tuesday 17th July 2018

Pingaran Ulu dan Ilir, Dua Desa “Panjaringan” nan Tersohor

Buah jaring (jengkol Red), bahan baku untuk panganan jaring (foto: inet)

Sejak puluhan tahun silam, dua desa di Kecamatan Astambul; Desa Pingaran Ulu dan Pingaran Ilir tersohor sebagai sentra pembuat panganan berbahan jengkol atau dalam bahasa Banjar disebut jaring. Itu karena, mengolah jaring menjadi pekerjaan yang dilakoni temurun oleh mayoritas warga setempat.

Langgengnya usaha pengolahan jaring dan lalaan yang dilakoni HM Syahrawi dan mayoritas warga dua desa di Kecamatan Astambul; Desa Pingaran Ulu dan Pingaran Ilir yang termurun sejak puluhan tahun silam bukan berarti tanpa terpaan gelombang. Terutama ketersediaan bahan baku utama; jaring (jengkol) dan kelapa.
TAK lekang dari ingatan Syahrawi, 25 tahun silam kala pertama ia memulai usaha pengolahan jaring (jengkol) dan lalaan sebagai industri rumahan di RT 4, Desa Pingaran Ilir.
Kala itu, jaring masih melimpah. Jaring di pasok dari sejumlah desa di sekitar tempat tinggalnya. Desa Biih di Kecamatan Karang Intan menjadi pemasok utama jaring kala itu. “Harganya kala itu masih Rp25 ribu per kaleng yang berisi 20 liter, atau setara 14 Kilogram,” terangnya.
Namun seiring waktu, pasokan jaring dari Desa Biih dan beberapa desa lain di Kecamatan Karang Intan terus berkurang. Untuk tetap dapat melanjutkan usaha pengolahan jaringnya, Syahrawi terpaksa memasok dari daerah lain yang lebih jauh.
Di antaranya beberapa desa di Kecamatan Aranio, Pasar Panas di Kecamata Sungai Pinang, dan dari Lokasado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ada juga jaring yang didatangkan pemasok dari daerah Kalimantan Barat
“Sampai dengan tahun 2000-an sebagian besar jaring masih dipasok dari sejumlah desa di wilayah Kabupaten Banjar. Tapi setelahnya, jaring juga didatangkan dari luar Kabupaten Banjar, termasuk dari Kotabaru bahkan Kalimantan Barat,” kata H Syahrawi.
Banyaknya pohon jaring atau pohon jengkol yang ditebang untuk dibuat papan, lebih banyak lagi yang ditebang pemilik lahan diganti dengan pohon karet, menurut pria parobaya ini menjadi faktor utama jaring kian langka di desanya, juga desa-desa yang semula menjadi pemasok utama jaring. Alhasil, jaring harus didatangkan dari daerah yang lebih jauh.
Jauhnya jarak tempuh taktis membuat ongkos kirim para pemasok jaring meningkat. Ujung-ujungnya harga jaring yang dibeli para pengolah jaring, termasuk Syahrawi melambung. Dari yang awalnya hanya Rp25.000 per kaleng, kini hingga Rp170 ribu – Rp200 ribu per kaleng atau biasa disebut masyarakat dengan istilah blek atau belek.
Untuk membeli jaring sebanyak dua kaleng saja, saat ini Syahrawi harus merogoh modal rata-rata sebesar Rp400 ribu per hari.
“Tergantung ukuran, juga tua atau tidaknya jaring. Yang besar dengan masa panen buah lima bulan di pohon, harganya kini Rp200 ribu. Yang kecil Rp170 ribu,” ujar Syahrawi sembari menunjukkan buah jaring kategori ukuran buah besar.
Sama halnya dengan jaring yang kian sulit didapat dan harga kian selangit, kelapa yang menjadi bahan utama membuat lalaan juga kian mahal. Padahal dalam sehari, Syahrawi mengaku rata-rata memerlukan sebanyak 150 butir kelapa untuk menghasilkan 20 Liter lalaan atau setara dengan 14 Kilogram.
Dengan harga per butir kelapa saat ini Rp2.500, dalam sehari Syahrawi tentu perlu menyiapkan modal tambahan sebesar Rp375.000. Untungnya, kayu yang juga komponen utama dalam proses pengolahan jaring dan lalaan,Syahrawi tak perlu beli.
“Kayu saya cari sendiri. Kalau kayu harus beli tentu modal yang diperlukan semakin banyak,” katanya.
Ongkos kirim kelapa yang saat ini mayoritas dipasok dari daerah hulu Barito di Kalteng, menurutnya, membuat harga kelapa tak kalah selangitnya dengan harga jaring. Dibanding dulu yang hanya sebutirnya Rp1.000-1.500.
Di tengah kian sulitnya mendapatkan bahan baku; jaring dan kelapa, Syahrawi menyuarakan, mestinya ada campur tangan aparat pemerintah, baik dari tingkat desa hingga kabupaten untuk keberlangsungan usaha rumahan pengolahan jaring dan lalaan di Desa Pingaran Ilir dan Ulu. Karena selama ini, pelaku industri rumahan ini berjalan sendiri tanpa papahan tangan pemerintah.
“Mestinya ada koperasi yang khusus mengadakan bahan baku pengolahan jaring dan lalaan. Apalagi saat ini harga jaring dan kelapa kian mahal. Tapi kami tak punya pilihan selain berharap di pemasok yang terkadang mengambil untung dari ongkos kirim. Tak jarang lebih mahal ketimbang harga beli jaring dan kelapa dari tangan petaninya,” kata Syahrawi menyemat harap.(SB-02)

No Responses

Tinggalkan Balasan