Sunday 22nd July 2018

Hebat Mengaji Dan Pintar Baca Latin

Suasana belajar mengajar santri Darussalam (foto : Istimewa)

Martapura – Bagi orang Martapura, bisa baca tulis dan paham Alquran satu keharusan yang ditanamkan sejak dini oleh orang tua. Tidak bisa mengaji tentu sangat memalukan, salah satu contoh, bila ingin menikah, si calon harus bisa mengaji dulu. Kalau tidak, keluarga besar akan malu dan bisa dicibir oleh lingkungan.

Keasyikan belajar baca tulis Alquran dan mendalami ilmu agama sering membuat kelupaan belajar aksara latin, sehingga banyak orang tua di Martapura yang sulit membaca bahasa latin namun sangat fasih membaca Alquran. Budaya ini salah satunya karena ilmu agama salah satu prioritas yang harus dimiliki orang Martapura.

0“Ulun belum lancar membaca latin tapi tetap belajar setiap ada waktu, tapi kalau mengaji jangan tanya,” kata Fandi, Santri Darussalam Martapura berusia 11 tahun saat ditemui di Haul ke-48 Tuan Guru Anang Sya’rani Arief Al-Banjari di Kampung Melayu, Kecamatan Martapura.

 Disela waktu belajar kurikulum pondok pesantren, Fandi mengaku tetap minta ajarkan membaca bersama rekan santri yang lebih tua. Santri Kelas Awaliyah ini pun membuktikan saat mengeja baleho selamat datang di acara haul, saat membaca aksara Arab cukup lancar, namun diminta mengeja “Selamat Datang” masih agak tersendat.

“Dia mulai lancar membaca pak, kami bersama-sama mengajari dia memabaca agar bisa juga latin,” timpal Muhammad Syaifullah, santri lain asal Palangkaraya, Kalteng.

Santri berusia 14 tahun ini jadi teman yang biasa mengajari Fandi membaca seusai pelajaran pondok, apalagi Syaifullah sempat bersekolah sampai kelas 6 SD namun tidak selesai karena diminta orang tuanya masuk pesantren. Ia mengaku sudah 3 tahun mondok di Darussalaman dan yakin bisa menyelesaikan nyantri sampai tamat.

“Sekarang kan jaman telepon genggam pak, kalau tidak bisa baca bagaimana kami main hape. Jadi membaca latin sangat penting namun lebih utama belajar aksara Arab,” ujarnya lagi.

Di luar jam kurikulum pondok, Syaifullah bersama temannya juga ikut kelas paket yang disediakan pondok pesantren. Di situ pelajaran umum diberikan para guru dengan sistem yang sangat mudah dipahami.”Tidak semua yang mau ikut kelas paket, sebagian lagi lebih menyukai mengaji duduk,” terangnya.

Karakteristik pendidikan Banjar yang sebagian besar berbasis keagamaan diakui oleh Kepala Dinas Pendidikan Banjar Gusti Ruspan Noor didampingi Erny Wahdini, Kabid Bina PAUD, Pendidikan Keluarga dan Pendidikan Masyarakat. Saat ini masih ada sekolah agama yang tidak mengajarkan huruf latin dan bukan berarti mereka tidak bisa baca tulis, santri itu hebat dan ahli jika membaca Arab Gundul dan Arab Melayu.

“Tapi kan di BPS standartnya aksara latin kendati mereka melek huruf arab, karena ketogori BPS latin jadi tetap mereka masuk kategori buta aksara tapi latin,” ujar Ruspan Noor.

Pengentasan buta aksara latin sangat inten sejak ada intervensi program perubahan dari pemerintah. Ada program selama 6 bulan latihan membaca dan berhitung kepada warga yang tidak bisa baca tulis dan berhitung latin. Terobosan itu akibat tingginya angka buta latin, sejak direncanakan pada 2014 dan 2015 berhasil dijalankan dan angka keberhasilannya mencapai 98.37 persen, itu dibuktikan dengan Anugerah Aksara Madya dari Kementerian.

Dijelaskannya, Penghargan Aksara Madya itu diberikan kepada kepala daerah yang peduli dengan buta akasar latin dan ada komitmen menyiapkan anggaran. Setelah berhasil dengan program pengentasan buta aksara dasar, Dinas Pendidikan terus menyiapkan angaran untuk  keaksaraan lanjutan, program ini diperuntukan bagi mereka yang meraih Sukma atau surat keterangan melek aksara.

“Sasaran dari usia 15 sampai 59 tahun, standar kelulusannya pun sangat ringan bagi kita yang bisa latin yaitu bisa membaca dan berhitung dari 1 sampai 20 dan memanfaatkan 5 kata untuk menulis. Tapi jangan kita mudah, bagi orang tua apalagi ibu-ibu ini sangat sulit,” katanya.(SB-03/SB-02)

No Responses

Tinggalkan Balasan