Tuesday 17th July 2018

Waduh! Ruang Merokok di Kantor PEMKO Banjarbaru Jadi Gudang Penyimpanan Kardus

 

SUARA BANUA.BANJARBARU-  Beberapa tempat khusus merokok (smooking area) yang dibangun oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru,Kalimantan Selatan, kini sudah beralih fungsi. Ruangan segi empat yang dibuat dari kaca dan aluminium itu sudah bukan lagi menjadi tempat khusus perokok.  Di Perkantoran Pemko Banjarbaru, misalnya, smooking area sudah menjadi gudang penyimpanan barang.

Miftahul Arifin, warga Kota Banjarbaru, menilai, smooking area itu tak terlihat sebagai tempat khusus bagi perokok. Sebab, dilihat dari luar, bangunan berbentuk segi empat itu lebih tepat menjadi gudang penyimpanan barang.

“Saya lihat orang masih bebas merokok di sembarang tempat dan saya tidak tahu kalau ada tempat khusus bagi perokok,” ungkapnya.

Keberadaan bilik merokok sia-sia dan tak ubahnya menjadi ajang menghambur-hamburkan anggaran semata. Pasalnya, sejak rampung dibangun,unit bilik merokok (smoking area) pada 2016 yang menghabiskan dana hampir 200 juta, bilik merokok malah dianggurkan. Parahnya, bilik beralih fungsi tak ubahnya sebuah gudang.  Faktanya, berdasarkan pantauan  tumpukan kardus bekas menggunung di dalam bilik.

Namun terkait nganggurnya bilik merokok, juga alih fungsi bilik untuk peruntukan lain, termasuk gudang, Maulidah Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa pada Dinkes Kota Banjarbaru membenarkan mengatakan, Dinkes angkat tangan. Menurutnya, kewenangan Dinas Kesehatan hanya di tahap pembangunan. Karena setelah serah terima aset dilakukan, kewenangan ada di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tempat bilik merokok berada. Pembangunan lima bilik merokok dilaksanakan oleh Dinkes Kota Banjarbaru melalui dana bagi hasil cukai rokok pemerintah pusat dua tahun lalu.

“Selain di Kantor Sekretariat Daerah, bilik merokok juga dibangun di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, dan  di lingkungan Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika,” kata Maulidah.

“Bilik merokok yang ada di lingkungan Dinas Komunikasi dan Informatika jika tidak salah juga beralih fungsi menjadi ruang siar. Karena sebelumnya sempat konsultasi ke kami untuk menggunakan ruangan bilik merokok untuk peruntukan lain. Namun karena kewenangan sebatas di tahap pembangunan, Dinkes tidak dapat bisa mengeluarkan rekomendasi untuk itu,” kata Maulidah.

Diakuinya, keberadaan  bilik merokok sebagai upaya meminimalisir dampak buruk asap rokok di lingkungan kantor pemerintahan sempat disampaikan ke pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI. Namun berdasarkan berdasarkan arahan kementerian, konsep tepat mengurangi dampak buruk asap rokok justru dengan pola ruang terbuka.

Dengan catatan, kata Maulidah, di sekitar ruang terbuka tempat orang merokok tersebut banyak tumbuh pepohonan yang dapat mengubah bahaya dari asap rokok menjadi oksigen.

”Karena jika merokok di dalam bilik, tetap saja akan membahayakan kesehatan bagi si perokok itu sendiri. Karena saat ini, bukan hanya perkokok pasif yang dilindungi,tapi juga perokok aktif. Karena bukan tidak mungkin, kendati merokok, kondisi kesehatan si perokok baik,” ujar Maulidah.(**)

No Responses

Tinggalkan Balasan