Friday 20th July 2018

Kisah Keterbatasan Guru Pelosok, Di tuangkan Dalam Buku

SUARA BANUA, MARTAPURA– Kepala Bidang Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Dinas Pendidikan Banjar Syawian ikut memperkaya dunia literasi Kabupaten Banjar.

Pria kelahiran Banjar 17 Maret 1966 ini aktif menulis sampai menghasilkan sebuah buku mungil setebal 59 halaman.

Buku berjudul ‘Guru Garis Depan’ tersebut memuat pengalaman Syawian selama bertugas di Dinas Pendidikan Banjar dan menyaksikan sendiri bagaimana kerasnya kehidupan pengajar di ujung batas kabupaten, Kecamatan Paramasan.

Buku tersebut lahir dari hasil pengamatan, perenungan, dan wawancara langsung.

Mulai sulitnya mendapat akses menuju lokasi, harus melewati dua kabupaten, sampai sinyal telepon yang sering lenyap.

Syawian juga menyinggung dalam satu bab tentang aktivitas siswa yang lebih memilih absen belajar ketika musim tanam atau panen serta menambang emas.

“Buku ini saya buat berdasarkan pengalaman perjalanan ke Paramasan dalam bentuk tulisan. Guru garis depan harus menyiasati keterbatasan dan dituntut kratif mengajar dengan alat peraga seadanya,” tegas Syawian ditemui usai Apel Hari Kesadaran Nasional di Halaman Pemkab Banjar, Selasa (17/4) pagi.

Ia menilai, guru garis depan adalah pejuang, mereka mencoba bertahan dengan minimnya akses jalan, listrik, sinyal telepon, dan sarana pendidikan.

Usaha guru pedalaman ini berdamai dengan keadaan itulah yang dimuatnya di dalam sebuah karya tulisan.

”Tugas dan kewajibannya mereka sama dengan guru yang di kota-kota. Tapi usaha mereka mengajar lebih ekstra,” tegasnya.(*)

No Responses

Tinggalkan Balasan