Tuesday 21st August 2018

Talk Show Kependudukan Bagi Guru dan Siswa Se Kota Banjarbaru

Banjarbaru, suarabanua.com Kamis (08 Maret 2018) Walikota Banjarbaru H Nadjmi Adhani di dampingi Ketua TP PKK Kota Banjarbaru Hj Ririen Nadjmi Adhani saat menghadiri sekaligus membuka kegiatan Talk Show Kependudukan Bagi Para Guru dan Siswa Se Kota Banjarbaru  dengan tema “Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Pernikahan Dini”, bertempat di Gedung Bina Satria Banjarbaru. Tampak Direktur Kependudukan BKKBN M Taufik S Kom MAP, Direktur Bina Remaja BKKBN Eka Sulistia Emningsih, Kepala BKKBN Prov Kalsel Ina Agustina MPh, FKPD Kota Banjarbaru, Ketoua GOW dan Ketua DWP Kota Banjarbaru serta undangan lainnya.

Ketua Umum Koalisi Kependudukan Indonesia DR Sony B Harmadi menyampaikan bahwa pertemuan hari ini adalah merupakan rangkaian acara yang melibatkan generasi muda Indonesia. Kenapa jadi kita memilih Kota Banjarbaru, karena Kota Banjarbaru salah satu Kota yang berkembang dengan sangat pesat dan memiliki Sumber Daya Manusia yang luar biasa. Yang menjadi tantangan yang besar di Kalimantan Selatan adalah angka pernikahan dini atau perkawinan anak yang masih cukup tinggi. Indonesia adalah negara dengan jumlah perkawinan anak tertinggi nomor tujuh didunia kata ‘DR Sony’. Oleh karena itu masa depan negara berada di tangan anak-anak.

Walikota Banjarbaru H Nadjmi Adhani mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada para nara sumber pada acara talkshow di Banjarbaru. H NadjmiAdhani sangat mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini, untuk memberikan edukasi kepada kaum muda betapa pentingnya menjaga kesehatan reproduksi.  Dan mampu menjadi langkah awal untuk dapat mengurangi masalah sosial yang terjadi di masyarakat, seperti pernikahan dini dan seks bebas.Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

Batasan usia remaja menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun.  Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja.  Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan ke dalam kelompok remaja.

Permasalahan remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, sering kali berakar dari kurangnya informasi, pemahaman dan kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan hal ini, mulai dari pemahaman mengenai perlunya pemeliharaan kebersihan alat reproduksi, pemahaman mengenai proses-proses reproduksi serta dampak dari perilaku yang tidak bertanggung jawab seperti kehamilan tak diinginkan, aborsi, penularan penyakit menular seksual termasuk HIV.

Dengan informasi yang benar, diharapkan anak-anak kita memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi.  Dalam hal ini kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.

Data proyeksi BAPPENAS dan BPS menyebutkan pada 2020 s/d 2035 komposisi penduduk Indonesia akan diisi oleh tenaga kerja produktif yang sangat berlimpah. Artinya, meski memiliki Sumber Daya Manusia yang banyak, masih banyak permasalahan yang harus dihadapi remaja di Indonesia. Masalah pertama yang masih harus dihadapi remaja adalah mengenai isu pernikahan dini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan angka pernikahan secara nasional mengalami peningkatkan dari 19,8 persen pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menjadi 20,1 persen pada SDKI 2012. Lebih jauh lagi, proporsi remaja berusia 15-19 tahun yang sudah melahirkan dan hamil anak pertama meningkat 8,5 persen (SDKI 2007) menjadi 9,5% (SDKI 2012).

Masalah kedua yang masih akan dihadapi para remaja adalah mengenai kesehatan produksi. Berdasarkan data Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI 2007), terdapat kecenderungan kenaikan proporsi remaja berusia 15-24 tahun yang aktif secara seksual. Semakin meningkatnya perilaku seksual remaja di luar nikah tentunya membawa dampak yang sangat berisiko, yakni terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Sedangkan, setiap tahun tercatat ada sekira 1,7 juta kelahiran dari perempuan berusia di bawah 24 tahun, yang sebagian adalah kelahiran yang tidak diinginkan.

Melalui acara yang sangat bermanfaat ini H Nadjmi Adhani berharap, kita semua dapat mengantisipasi permasalahan ini agar generasi bangsa tidak terjerumus dalam pergaulan seks bebas yang mengarah pada pernikahan dini. Dan kepada anak-anak peserta talkshow H Nadjmi Adhani berpesan, sadari betul kapankalian akan menyelesaikan pendidikan, kapan akan bekerja, dan kapan akan memutuskan menikah. Dan untuk mendapatkan generasi yang tangguh, maka salah satu unsur yang memegang peran utama adalah keluarga dalam pembentukan karakter, integritas dan etika.

Peran keluarga menjadi sangat penting ketika gaya hidup mulai berubah dan semakin mengglobal akibat semakin tingginya teknologi informasi dan modernisasi. Keluarga tidak hanya mampu menananamkan nilai-nilai luhur , tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang dianut dunia dengan lebih bijak. Membentuk generasi yang tangguh, memiliki daya juang dan intelektual tinggi sekaligus mempunyai karakter yang kuat, empati dan kepedulian terhadap berbagai isu yang berkembang baik lokal, regional, nasional maupun internasional.

Usai kegiatan pembukan dilanjutkan dengan talkshow.

No Responses

Tinggalkan Balasan