Thursday 16th August 2018

Guru Khalil Pimpin Haul Pangeran Hidayatullah Halil Illah Ke-113

 

Cianjur, SB – Bupati Banjar pimpin Haul Pangeran Hidayatullah Halil Illah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman ke 113 Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat yang berlangsung di kawasan makam beliau bersama keluarga keturunan beliau, Sabtu (25/11).
Haul berlangsung dengan suasana khitmat. Ratusan warga Masyarakat dan para santri dari pondok pesantren berdatangan untuk mengikuti jalannya ritual haul.
Setelah usai berdo’a di makan Pangeran Hidayatullah Bupati Banjar melanjutkan menyampaikan rasa hotmat dalam sambutannya di tengah jamaah haul yang juga dihadiri oleh Asisten Bupati CianjurAban Subandi.

Dalam sambutannya Kholilurrahman menyampaikan perjuangan Pangeran Hidayatullah dalam perang Banjar melawan Kolonial Hindia Belanda yang sangat gigih dan berani untuk membebaskan belenggu penjajahan di tanah Banjar.

“Pangeran Hidayatullah adalah Pahlawan, dimana waktu dulu beliau sedang bergerilia melawan kolonial hindia belanda dalam perang banjar. Pada saat ibunya dikabarkan diculik oleh pasukan belanda dalam keadaan sakit dan diancam akan di gantung di tengah alul-alun Martapura dan diminta Pangeran Hidayatullah menyerahkan diri. Mendengar kabar tersebut pangeran yang juga sangat mencintai ibunyapun menyerah diri dan lalu diasingkan ke tanah jawa dengan 67 orang lainnya,” ujar guru Kholil.
Bupati melanjutkan bahwa saat itu Pangeran Hidayatullah yang juga salah satu murid dari datu Kalampayan Syeikh Muhammad Arsyad Al-banjari sangat gigihnya melawan penjajah yang juga ingin menyebarkan agama yang dibawa oleh para misionaris hindia belanda ke Kerajaan Banjar.

Pada kesempatan itu juga keturunan keempat Pangeran Yusuf juga menyampaikan, Pangeran Hidayatullah ditipu oleh penjajah dengan kabar ancaman ibunya yang ingin di gantung di alun-alun Martapura.pangeran menyerahkan diri lalu diansingkan ke cianjur dan menetap dan bermakam disana.

“Pangeran Hidayatullah sangat sayang pada ibunya, dengan kekuatan perlawanan pangeran yang dianggap oleh penjajah adalah hambatan besar untuk melancarkan taktik dan strategi mereka, pangeran ditipu dengan kabar ibunya akan dihukum gantung. Pangeranpun menyerahkan diri lalu diasingkan ke cianjurbersama 67 orang lainnya dan menetap dan bermakan di cianjur.

Pangeran juga bergerak menyebarkan agama Islam dan mendirikan pondok pesantren pertama dicianjur dan juga mengajarkan ilmu bela diri kepada masyarakat penduduk cianjur hingga pangeran diberi gelar Ulama Berjubah Kuning bersenjata Sakti,” ungkap pangeran yusuf.
Tidak hanya itu, makam Pangeran Hidayatillah sempat ingin dipindahkan ke Banjar, namun masyarakat cianjur menolak karena beliau juga sudah dianggap sebagai warga cianjur dan telah banyak berjasa hingga nama Pangeran Hidayatullah dijadikan nama salah satu jalan di kabupaten cianjur. (syd)

No Responses

Tinggalkan Balasan