Sunday 20th May 2018

Petani Senang Ada Mesin Perontok Padi

CANGGIH – Proses memanen padi menggunakan mesin perontok padi nan canggih. Menggunakan mesin ini, panen padi lebih cepat dan irit biaya.

MARABAHAN, SB – Penerapan teknologi  yang dikembangkan pemerintah dalam pengelolaan sektor pertanian, terutama tanaman pangan sudah semakin maju. Salah satunya adalah mesin perontok padi permanen nan canggih.

Romansyah, petani tradisional Desa Beringin Jaya, Kecamatan Anjir Muara, Barito Kuala salah satu yang merasakan dampak positif penerapan teknologi sektor pertanian tersebut. Menurutnya, hanya dengan waktu kurangd ari satu jam, padi di atas lahan seluas setengah hetare miliknya rampung dipotong dan dirontokkan dengan mesin perontok padi. “Jika manual perlu waktu lebih dari satu minggu,” ujarnya, Rabu (19/7).

Selain dapat memanen padi dengan cepat, penggunaan mesin perontok padi menurut Romansyah juga irit biaya. Karena untuk satu blek –setera dengan 20 liter/14 kilogram- gabah, petani hanya dikenakan biaya Rp8.000. jauh lebih murah dibanding dengan panen cara manual yang masih perlu biaya ongkos angkut sebagai biaya tambahannya.

Tak hanya itu, penggunaan mesin perontok, lanjutnya, juga dapat mengurangi risiko kerugian hasil panen yang disebabkan faktor alam dan serangan hama; tikus dan burung. Karena semakin lama waktu pemanenan, risiko padi rontok juga semakin tinggi.

Keuntungan lain dari penggunaan mesin perontok padi, tak perlu lagi pengolahan khusus tanah di pematang sawah karena telah gembur digilas mesin perontok. “Limbah padi sisa perontokan yang tertinggal di atas lahan, akan terurai dan menjadi pupuk alami,” ungkap Romansyah.

Lajuardi, Kepala Desa Beringin Jaya mengatakan, keberadaan teknologi baru dalam sistem pengolahan pertanian di desanya sangat membantu para petani. Disampaikannya, Desa Beringin Jaya memiliki luas persawahan produktif sekitar 70 hektare. Lahan seluas itu akan sangat menguras waktu dan tenaga para petani saat memanennya.

“Menggunakan mesin perontok, risiko kerugian dan biaya tinggi bisa dihindari petani. Tak perlu lagi khawatir akan ancaman alam dan padi bisa langsung disimpan di gudang,” kata Lajuardi. (mj/to)

 

No Responses

Tinggalkan Balasan