Friday 20th July 2018

Analisis Hilal Untuk Penetapan 1 Syawal 1438 H

Analisis Hilal Untuk Penetapan 1 Syawal 1438 H
Oleh: Datu Syaikhu  (Dosen Ilmu Falak Darul Ulum dan Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Kalsel)

 

Untuk menentukan awal bulan setidaknya ada empat kriteria yang lazim digunakan di Indonesia, pertama, sudah terjadi ijtimak (conjunction) sebelum matahari terbenam, kedua, matahari terbenam lebih awal dari bulan, ketiga, diperlukan sudut jarak tertentu dari matahari-bulan dan keempat, ketinggian hilal yang cukup untuk memenuhi kreteria memungkinkah rukyah.

Secara hisab, ijtimak yaitu ketika bumi, bulan dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama, terjadi pada hari ini Sabtu, 24 Juni 2017 M, pukul 02:31 UT (Universal Time) atau pukul 09: 31 WIB atau 10: 31 WITA atau 11: 31 WIT di bujur di 92°47ʹ13ʺ. Kemudian dari seluruh Indonesia matahari akan terbenam lebih awal dari terbenam bulan, dengan demikian posisi hilal positif di atas ufuk.

Sementara ketinggian hilal (irtifa’u al-hilal) untuk pengamatan dari wilayah Timur hingga Barat Indonesia saat matahari terbenam berkisar antara 2°08ʹ24ʺ hingga 3°39ʹ00ʺ.

Sudut jarak (elongasi) matahari-bulan saat sunset dari timur hingga barat Indonesia berkisar antara 4°30ʹ00ʺ hingga 5°58ʹ48ʺ dan usia hilal di Indonesia yang dihitung sejak ijtimak sampai terbenam matahari di Indonesia berkisar antara 5 jam 58 menit 48 detik hingga 9 jam 25 menit 2 detik. Selanjutya kesempatan untuk melakukan pengamatan hilal di atas ufuk sejak matahari terbenam berkisar 11 menit 51 detik hingga 18 menit 54 detik.

Memperhatikan aspek hisab di atas dikonfirmasi dengan kriteria MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura) yang menyepakati bahwa bulan sudah memungkinkan diamati jika memenuhi kreteria 2, 3, 8, yaitu 2 derajat ketinggian, 3 derajat sudut jarak bulan matahari, dan 8 jam usia minimal bulan.

Dengan terpenuhinya kriteria versi MABIMS secara kumulatif khususnya pada wilayah barat Indonesia, maka apabila ada yang mengaku melihat hilal, pengakuan tersebut biasanya diterima oleh Pemerintah, meskipun posisi hilal Sabtu 24 Juni 2017 sejujurnya sangat sulit di amati dan cenderung kontroversial di kalangan astronom.

Untuk lokasi pengamatan di Kalsel sendiri yaitu di Pantai Takisung dan Gedung BPD Kalsel tinggi hilal hanya berkisar 3°08ʹ51ʺ dan 3°09ʹ53ʺ, suatu posisi ketinggian hilal yang sangat sulit diamati. Apalagi tipologi horizon barat kedua tempat kurang mendukung karena selalu diselimuti kabut dan di BPD polusi cahaya cukup tinggi.

Namun berdasarkan pengalaman di Indonesia selalu ada klaim rukyah ketika posisi hilal sudah memenuhi kreteria MABIMS. Karena tidak ada verifikasi secara saintifik maka klaim rukyah biasanya diterima dengan mudah oleh pemerintah. Atas pengalaman itu diprediksi 1 Syawal 1438 H jatuh pada Ahad 25 Juni 2017. Insya Allah. *)

 

Cara penulisan = 3°08ʹ51ʺ
= TIGA DERAJAT DELAPAN MENIT LIMA PULUH SATU DETIK, ATAU
= 3d 8m 51s

No Responses

Tinggalkan Balasan