Sunday 19th August 2018

Rizky Tewas Dikeroyok Dalam LPA Martapura

Video CCTV suasana usai kejadian pengeroyokan (Foto: Istimewa)

MARTAPURA, SB – Naas, baru menjalani masa tahanan dua bulan M Rizky (16) tewas dikeroyok sesama Anak Didik Pemasyarakatan (Andikpas) Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) Klas II Martapura, Kabupaten Banjar, Kalsel. Pengeroyokan terjadi pada Sabtu (4/3) sekitar pukul 18.15 WITA.

Kalapas Anak Klas II Martapura Tri Saptono Sambudji membenarkan, tewasnya Rizky karena dikeroyok beberapa orang. Namun kejadian tersebut saat ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian dan semua tersangka juga sudah diamankan.

Dari data LPA Klas II Martapura, Rizky dikeroyok beberapa tersangka. Yang diamankan ada 4 orang namun satu diantaranya masih belum dipastikan sebagai tersangka atau saksi saja.

Adalah Mrc (17) warga Banjarmasin, Mr (17) warga Rantau, Ads (17) warga Banjarbaru, sedangkan Mrs (17) warga Banjarmasin masih belum dipastikan keterlibatannya dalam pengeroyokan tersebut.

“Dari keterangan sementara, ketiga orang itu sudah dipastikan terlibat dalam pengeroyokan tersebut. Sedangkan Mrs masih belum dipastikan ikut dalam pengeroyokan karena masih dalam pemeriksaan pihak kepolisian,” ujar Tri Saptono menjelaskan.

Diceritakannya, kronologis kejadian berawal dibukanya pintu tahanan menjelang salat Magrib berjamaah. Setelah itu, Mrc yang diberi tugas sebagai tahanan pendamping (tamping) di LPA Anak serta masa tahanannya hanya tersisa 7 hari, menegur korban karena dianggap terlalu ego dan susah diatur padahal baru dua bulan berada dalam LPA. Setelah ditegur dengan sedikit kontak fisik, kemungkinan korban melawan sehingga terjadilah pengeroyokan tersebut.

Sebelum pengeroyokan terjadi, korban sempat digiring ke samping taman kreasi yang luput dari pantauan CCTV. Berlangsung 5 menit kemudian korban sudah pingsan dan digotong oleh beberapa Andikpas ke aula kreasi.

Korban langsung dibawa ke klinik LPA dan diberikan pertolongan, namun karena diduga ada beberapa pukulan dan tendangan mengenai titik vital tubuhnya, sehingga korban tidak tertolong dan meninggal dunia.

“Setelah kejadian tersebut, petugas penjagal langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi dan petugas langsung datang dan mengamankan semua tersangka,” jelas Tri.

Saat ini, keempat orang tersebut masih berada dalam LPA Anak. Namun ditempatkan di sel terpisah, sehingga tidak bisa berkomunikasi antar tersangka.

Lanjut Tri, dari keterangan salah satu tersangka memang awalnya mereka hanya ingin memberi pelajaran saja pada korban dan tidak ada niat untuk membunuhnya. Itu terlihat dari tubuh korban yang tidak mengalami lebam namun ada luka pada bagian bibir.

“Motif kejadian ini awalnya hanya untuk memberikan pelajaran pada korban dan kejadian hanya berlangsung sekitar lima menit saja,” tutupnya. (SB-01)

No Responses

Tinggalkan Balasan