Wednesday 20th June 2018

Hmmm Ribuan Buku Mengaji Masuk Lapas

Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Martapura (foto: kalsel.kemenkumham.go.id)

MARTAPURA, SB – Pesantren At Taubah di LPKA Martapura kembali mendapat buku pendukung kegiatan pesantren bagi santri warga binaan. Sebanyak seribu buku Iqro diberikan Bupati Banjar H Khalilurrahman kepada Kalapas Martapura Tri Saptono baru-baru tadi di Halaman Pemkab Banjar. Buku untuk mengaji itu digunakan untuk kelancaran proses mengaji bagi narapidana.

Menurut Tri Saptono, pesantren sebenarnya dijanjikan sebanyak 1500 buku Iqro namun yang baru direalisasikan baru seribu buku. Ia juga berharap, bila ada pihak lain yang mau memberikan bantuan untuk santri warga binaan tetap diterima salah satunya buku bacaan untuk menghidupkan perpustakaan Lapas. Ada juga kabar baik dari PDAM Intan Banjar yang akan menyediakan sebanyak 50 Alquran.

“Buku Iqro ini sangat memudahkan bagi santri warga binaan untuk belajar mengaji. Buku ini kami bagi untuk warga binaan perempuan dan laki-laki,” terang Tri Saptono.

Sedangkan Dra Barkeh, salah satu ustazah pesantren lapas dari Kemenag Banjar mengakui, buku-buku agama masih diperlukan untuk pesantren. Perempuan berjilbab yang tinggal di Pesayangan Martapura dan dikenal dekat dengan warga binaan karena sudah lama menjadi ustazah, bahkan sebelum pesantren itu hadir di lapas Martapura berharap, dukungan serupa bisa digalakan oleh beberapa pihak.

“Saya mengajarkan mengaji dengan metode Al Banjari namun menggunakan buku Iqro, mereka belajar mulai huruf hingga Alquran, sesama santri saling berbagi ilmu, kalau tidak mereka yang bantu kami ini pasti kerepotan,” katanya.

Sedangkan Bupati Banjar H Khalilurrahman saat ditemui di Desa Keramat Baru, Kecamatan Martapura Timur mengakui bantuan buku Iqro khsusus pesantren lapas. Pesantren lapas di Martapura, ujarnya jadi percontohan se Kalsel, lapas lain mulai melakukan studi di Martapura terkait penerapan kurikulum pesantren untuk pembinaan narapidana.

“Harapannya, warga binaan setelah keluar lapas bisa berubah, karena orang yang telah bertobat dijanjikan tidak ada lagi memiliki dosa. Hasil studi banding ke Cianjur, ada mantan napi yang memakmurkan masjid dan musala di kampungnya. Jadi jangan kucilkan mereka,” pungkasnya.(SB-06/SB-01)

No Responses

Tinggalkan Balasan